Setiap pagi jam 6.30, Pak Dedi berangkat dari Cikarang ke pabrik di kawasan MM2100 pakai Honda BeAT lansiran 2019. Jarak cuma 8 km, tapi karena harus melewati tiga lampu merah dan pasar tumpah, konsumsi BBM motornya bisa turun drastis dari klaim pabrikan 55 km/liter jadi cuma 35 km/liter kalau gaya bawanya asal grasak-grusuk. Ini bukan soal mesin rusak, tapi soal kebiasaan tangan kanan yang terlalu sering narik gas mendadak lalu ngerem lagi.
Kalau kamu naik motor matic buat komuter harian di kota padat seperti Jabodetabek, Surabaya, atau Bandung, gaya berkendara punya pengaruh lebih besar ke boros-tidaknya BBM dibanding jenis motor itu sendiri. Berikut beberapa kebiasaan yang perlu dievaluasi.
Di jalur macet seperti Jalan Kalimalang atau depan Terminal Bekasi, banyak pengendara matic yang buka gas penuh begitu ada celah 2-3 meter, lalu langsung rem. Pola stop-and-go seperti ini yang paling boros. Yamaha NMAX 155 misalnya, kalau dipakai dengan gaya smooth (buka gas bertahap, jaga jarak lebih jauh dari motor depan), konsumsi bisa di angka 40 km/liter. Tapi kalau gaya narik-rem-narik-rem terus, angkanya bisa anjlok ke 28 km/liter dalam kondisi macet yang sama.
Banyak pemilik motor matic baru cek ban kalau sudah kempes total. Padahal tekanan angin yang kurang 3-4 psi dari standar (biasanya 29 psi depan, 33 psi belakang untuk matic) bikin gesekan ban ke aspal lebih besar, mesin jadi kerja ekstra buat dorong motor. Efeknya konsumsi BBM naik sekitar 5-8 persen tanpa disadari pengendara.
Kalau kamu sering bonceng dua orang plus tas belanjaan di depan, jangan heran kalau BBM lebih boros dari biasanya. Motor matic 125cc seperti Honda Vario yang biasanya efisien untuk satu orang, performanya jelas berubah kalau harus angkut beban tambahan 60-70 kg. Solusinya bukan hindari boncengan, tapi sesuaikan gaya buka gas jadi lebih halus dan hindari akselerasi mendadak saat nanjak.
Komponen CVT (roller, v-belt, per) yang sudah aus bikin tenaga dari mesin ke roda tidak tersalur maksimal. Efeknya, motor butuh gas lebih dalam untuk kecepatan yang sama, dan itu artinya BBM lebih boros. Idealnya, cek CVT setiap 8.000-10.000 km, bukan cuma pas motor sudah terasa bergetar atau tarikan ngempos.
Q: Apakah riding mode Eco di motor matic keluaran baru benar-benar berpengaruh ke BBM?
A: Berpengaruh, tapi efeknya lebih terasa kalau dikombinasikan dengan gaya berkendara yang sudah halus. Riding mode Eco cuma membatasi respons gas, bukan mengubah kebiasaan tangan kamu.
Q: Lebih irit mana, motor manual atau matic untuk pemakaian harian di kota macet?
A: Tergantung gaya berkendara. Motor manual seperti Honda Supra X 125 bisa lebih irit di macet karena pengendara bisa atur RPM lewat perpindahan gigi, tapi matic lebih nyaman buat pemula yang belum terbiasa oper gigi terus-menerus di kemacetan.
Intinya, sebelum buru-buru ganti motor dengan alasan boros BBM, coba evaluasi dulu tiga hal: tekanan ban, kondisi CVT, dan yang paling penting, kebiasaan tangan kanan kamu sendiri di gas.
Cari motor baru dengan cicilan ringan atau mau booking service?
Lihat Katalog Motor Baru