Pak Slamet, tukang ojek online di Bekasi, pernah cerita ke bengkel langganan kalau Honda Vario 125 miliknya jadi kasar suaranya dan tarikan awal terasa nyendat setelah ganti oli di bengkel pinggir jalan. Setelah dicek, ternyata oli yang dipakai adalah oli untuk motor bebek berkopling manual, bukan oli khusus matic. Kasus seperti ini sering terjadi karena banyak orang mengira semua oli mesin motor itu sama saja, padahal spesifikasinya beda jauh tergantung jenis transmisi dan sistem kopling motor tersebut.
Perbedaan paling mendasar ada pada kandungan zat gesek (friction modifier) di dalam oli. Motor matic seperti Yamaha NMAX atau Honda Vario tidak punya kopling basah yang berendam oli mesin, karena perpindahan tenaga dilakukan lewat CVT kering. Sementara motor bebek atau sport seperti Honda Supra X125 dan Yamaha Vixion punya kopling basah yang ikut terendam oli mesin. Kalau oli motor kopling dituangkan ke motor matic, sebenarnya tidak masalah karena justru oli matic dirancang lebih licin. Tapi kebalikannya, kalau oli motor matic dipakai di motor berkopling basah, kopling bisa selip karena zat gesek terlalu licin, akibatnya tarikan jadi lemot padahal RPM sudah tinggi.
Supaya tidak salah pilih, perhatikan kode JASO yang tertera di botol oli. Ada dua kategori utama:
1. JASO MB, ini khusus untuk motor matic. Kandungan friction modifier tinggi sehingga gesekan CVT lebih halus dan hemat bahan bakar.
2. JASO MA atau MA2, ini untuk motor berkopling manual seperti bebek dan sport. Oli jenis ini dirancang agar kopling tidak selip saat menyalurkan tenaga dari mesin ke roda.
Selain kode JASO, perhatikan juga kekentalan oli atau SAE. Motor matic harian yang sering dipakai di kemacetan Jakarta misalnya, umumnya cocok pakai SAE 10W-30 karena mesin cepat panas akibat stop and go terus menerus. Sementara motor yang sering dipakai jarak jauh dengan RPM stabil, seperti sering dipakai touring ke luar kota, bisa pakai SAE 10W-40 supaya lapisan oli tetap stabil di suhu tinggi.
Banyak yang bertanya, memangnya seserius apa dampaknya kalau salah pakai oli? Berikut gambaran nyatanya berdasarkan pengalaman montir di beberapa bengkel resmi:
Pada motor matic yang pakai oli kopling manual, dampaknya CVT jadi lebih cepat aus karena gesekan roller dan kampas ganda tidak terlumasi sesuai kebutuhan komponen matic. Selain itu, konsumsi bahan bakar bisa naik 1 sampai 2 kilometer per liter karena gesekan mesin tidak seoptimal saat pakai oli yang tepat.
Sebaliknya, pada motor kopling manual yang pakai oli matic, kampas kopling jadi licin dan selip terus menerus. Efeknya, motor terasa boros bensin karena RPM naik tapi tenaga tidak tersalur maksimal ke roda, dan lama kelamaan kampas kopling harus diganti lebih cepat dari usia normalnya yang biasanya sekitar 20.000 sampai 25.000 kilometer.
Kalau terpaksa ganti oli di bengkel kecil bukan bengkel resmi, jangan sungkan untuk membawa sendiri oli yang sudah dibeli dan dipastikan kodenya. Atau minimal, minta montir menunjukkan botol kemasan oli sebelum dituang ke mesin. Cara ini sederhana tapi efektif mencegah kejadian seperti yang dialami Pak Slamet tadi, sekaligus memastikan motor matic maupun motor berkopling manual sama-sama awet sesuai spesifikasi pabrikan.
Cari motor baru dengan cicilan ringan atau mau booking service?
Lihat Katalog Motor Baru