Setiap pagi jam 6, Pak Yanto berangkat dari Ciputat ke kantornya di Kuningan pakai Honda BeAT keluaran 2019. Jaraknya sekitar 22 km sekali jalan, jadi 44 km pulang pergi. Dulu dia bisa isi Pertalite Rp20.000 buat tiga hari kerja. Belakangan, uang segitu cuma cukup dua hari. Motornya masih sama, rutenya juga sama, tapi konsumsi BBM-nya makin boros. Setelah ngobrol sama mekanik langganan, ternyata masalahnya bukan di mesin, tapi di kebiasaan riding hariannya sendiri.
Kalau kamu komuter harian yang menempuh jarak menengah-jauh tiap hari dengan motor matic, lima kebiasaan ini patut dicek dulu sebelum buru-buru servis karburator atau ganti part.
Ini kebiasaan paling umum di jalanan Jakarta-Tangerang yang macet-macetnya berlapis. Begitu lampu hijau, gas langsung dibejek sampai RPM tinggi biar cepat nyalip. Padahal setiap tarikan mendadak dari kondisi diam butuh bahan bakar 2-3 kali lipat dibanding akselerasi bertahap. Coba hitung sendiri: dalam satu perjalanan 22 km lewat kawasan macet, bisa ada 15-20 titik lampu merah. Kalau tiap titik kamu narik gas mendadak, efeknya kerasa banget di odometer BBM.
Saat nunggu jemputan anak sekolah atau antre isi bensin, banyak yang membiarkan motor menyala 5-10 menit dalam keadaan diam. Motor matic seperti Yamaha NMAX atau Honda BeAT tetap membakar bahan bakar meski RPM idle rendah. Kalau ini terjadi 3-4 kali sehari, akumulasinya bisa setara dengan menempuh 2-3 km ekstra tanpa manfaat jarak sama sekali.
Bawa air galon, belanjaan pasar, sampai perkakas kerja di bagasi motor itu wajar buat kebutuhan harian. Tapi tiap tambahan 10 kg beban bisa menaikkan konsumsi BBM sekitar 3-5%. Kalau tiap hari motor dibebani belanjaan plus dua orang penumpang, jangan heran kalau konsumsi BBM NMAX yang biasanya 1:40 turun jadi 1:32-1:35.
Banyak pengendara jarang cek tekanan ban dan baru sadar ketika ban kelihatan kempes. Padahal tekanan yang kurang 20% dari standar pabrik (biasanya 29 psi depan, 33 psi belakang untuk matic) bisa menambah gesekan ban ke aspal, memaksa mesin bekerja lebih keras, dan ujungnya boros BBM sekitar 2-4%.
Sebagian pemilik motor lebih sibuk upgrade knalpot racing atau CVT aftermarket demi tarikan yang katanya lebih responsif, tapi lupa ganti oli mesin tepat waktu di kelipatan 2.000-3.000 km. Oli yang encer karena kelamaan dipakai bikin gesekan komponen mesin meningkat, dan mesin jadi bekerja ekstra keras untuk menghasilkan tenaga yang sama.
Kalau budget terbatas, prioritaskan dua hal yang paling murah tapi dampaknya besar: cek tekanan ban tiap minggu dan biasakan buka gas perlahan-lahan setiap kali berhenti total. Dua kebiasaan ini gratis, tidak butuh bengkel, tapi bisa menghemat konsumsi BBM sampai 10-15% dalam sebulan kalau dilakukan konsisten.
Buat yang menempuh rute jauh setiap hari seperti Pak Yanto, coba hitung dulu konsumsi BBM aktual selama seminggu dengan mencatat jarak tempuh dan volume pengisian. Dari situ baru kelihatan jelas kebiasaan mana yang paling banyak menggerus dompet. Kalau motor sudah berumur di atas 3 tahun dan konsumsi BBM makin aneh meski kebiasaan riding sudah diperbaiki, itu saatnya mampir ke bengkel Nambo Motor buat pengecekan CVT dan sistem pengapian secara menyeluruh.
Cari motor baru dengan cicilan ringan atau mau booking service?
Lihat Katalog Motor Baru